Sorotrakyat.com | Subang – Malam Rabu, 22 Juli 2025, suasana Desa Kediri, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang terasa istimewa. Alunan gamelan berpadu dengan tembang sinden menandai dimulainya sebuah pagelaran wayang kulit yang langka dan penuh makna.
Acara tersebut digelar dalam rangka hajat besar seorang tokoh masyarakat yang dihormati – yakni pernikahan anaknya. Untuk memuliakan momentum sakral ini, ia sengaja mendatangkan dalang dan rombongan seni dari Kota Indramayu, membuktikan bahwa budaya tradisi masih punya tempat di hati masyarakat.
Pagelaran berlangsung meriah. Warga dari berbagai kalangan memadati area panggung. Mereka larut dalam kisah-kisah pewayangan yang tak lekang oleh waktu, dari Mahabharata hingga Ramayana, disampaikan dengan iringan gamelan yang menggugah nostalgia.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pertunjukan ini menjadi oase kebudayaan yang menyatukan generasi. “Di zaman sekarang, wayang kulit sudah jarang terlihat. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga bentuk pelestarian warisan leluhur,” ujar salah satu warga yang juga pecinta seni tradisional.
Wayang kulit bukan hanya tontonan, tapi tuntunan. Nilai-nilai moral, filosofi hidup, serta kearifan lokal disampaikan lewat kisah dan lakon yang dimainkan semalam suntuk.
Langkah sederhana ini menjadi bukti bahwa kesenian rakyat tak harus mewah untuk memberi makna. Justru dari desa-desa seperti Kediri, semangat merawat budaya dapat kembali menyala.
(Nana)
Penerbit:DenMJ
