ADVERTISEMENT
160×600
Skyscraper
Kuping Kiri
ADVERTISEMENT
160×600
Skyscraper
Kuping Kanan
Sorot Rakyat • Media Terdepan Dalam BeritaIkuti: FB • IG • YT • TikTok
ADVERTISEMENT
728×90 — Header
Ganti dengan Ads 728x90 Jika ada
BREAKINGWafatnya Syekh KH. TB. Hakim Agus Fauzan Al Falak: Duka Mendalam Selimuti Bogor dan Dunia Pesantren NusantaraSorot Rakyat
Advertorial

Ancaman Kesehatan Mental di Era Digital, Screen Time Maksimal 3 Jam

Sorot Rakyat • 23 Mei 2025 • 17:13 WIB
Sorotrakyat.com | Kota Bogor – Komunikasi merupakan aspek krusial dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Interaksi sosial menjadi kebutuhan dasar karena setiap individu saling memerlukan bantuan untuk memenuhi kebutuhannya. Era digital saat ini mendorong sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu berselancar di dunia maya, mulai dari bekerja, bersosial media, menikmati hiburan, hingga bermain game […]

Sorotrakyat.com | Kota Bogor – Komunikasi merupakan aspek krusial dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Interaksi sosial menjadi kebutuhan dasar karena setiap individu saling memerlukan bantuan untuk memenuhi kebutuhannya.

Era digital saat ini mendorong sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu berselancar di dunia maya, mulai dari bekerja, bersosial media, menikmati hiburan, hingga bermain game online. Meskipun banyak manfaat, kebiasaan ini juga menyimpan risiko terhadap kesehatan mental.

ADVERTISEMENT — 336×280
AD CONTOH NATIVE feed • tipis
Native 1:4 • scroll santai Ayah

Psikiater Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Marzuki Mahdi (PKJN RSMM), dr. Lahargo Kembaren, mengungkapkan beberapa risiko kesehatan mental yang bisa timbul, antara lain: adiksi (kecanduan) internet, kesepian (loneliness), ansietas, dan depresi.

“Risiko lain adalah penurunan fungsi kognitif (brain root) untuk fokus, konsentrasi, memori, dan pengambilan keputusan karena sering menonton video pendek. Selain itu, ada risiko gangguan bicara (speech delay) pada anak,” jelas dr. Lahargo.

Untuk menghindari bahaya tersebut, dr. Lahargo menyarankan masyarakat untuk mulai mengatur screen time maksimal tiga jam sehari hanya untuk hiburan, media sosial, dan bermain game. Ia juga mendorong keseimbangan antara aktivitas digital dengan aktivitas non-digital, seperti olahraga, bermusik, mengikuti komunitas, kegiatan keagamaan, dan hobi lainnya.

“Canangkan gerakan ‘rindulah mata yang menatap dan bukan jari yang mengetik’. Kemudian, kenali tanda-tanda kecanduan atau adiksi digital seperti muncul masalah mental emosional, performa keseharian menurun, dan hubungan dengan orang lain terganggu,” terangnya.

120×80
NATIVE FRAME
Rekomendasi redaksi
AD CONTOH NATIVE -single2 • tipis

Dr. Lahargo menyarankan digital detoksifikasi, yaitu pengurangan atau penghentian penggunaan media digital untuk kurun waktu tertentu, dengan tujuan memberi kesempatan bagi otak dan tubuh untuk beristirahat. Selain itu, hindari berkunjung ke situs-situs yang tidak bermanfaat, bahkan memberikan efek negatif, seperti berita hoaks, kekerasan, dan pornografi.

Baca Juga:  Bayi Mungil Ditemukan Terbuang di Pemukiman Padat Penduduk, Cigudeg

“Konsultasi ke profesional kesehatan jiwa bila sudah mulai sulit untuk melepaskan diri dari adiksi digital,” tegas dr. Lahargo.

Upaya bersama untuk memahami dan mengelola dampak psikologis dari interaksi daring, serta penggunaan teknologi yang bijak, menjadi landasan untuk menciptakan lingkungan digital yang mendukung kesejahteraan mental. Dengan demikian, kita dapat membangun fondasi yang kuat bagi kesejahteraan psikologis di dunia digital saat ini.

(ADV)

Editor & Penerbit: Den.Mj