Wacika Lembur: Hadirkan Solusi Air Bersih Berkeadilan di Pelosok Cianjur

SOROTRAKYAT.COM | CIANJUR — Komitmen nyata dalam menghadirkan pemerataan infrastruktur dasar serta pemenuhan hak-hak dasar masyarakat kembali ditunjukkan oleh dunia akademis. Melalui program Projek Kepemimpinan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Pasundan (UNPAS), sebuah gerakan inspiratif bertajuk Wadah Cai Kahuripan Lembur (Wacika Lembur) resmi direalisasikan di Kampung Babakan Ciherang, Desa Susukan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Inisiatif strategis ini difokuskan pada pembangunan fasilitas penampungan air berupa bak penampung air bersih guna merespons tantangan krusial mengenai keterbatasan dan pemerataan akses sumber daya air yang dihadapi oleh masyarakat setempat.
Menjawab Kebutuhan Esensial Warga Melalui Kolaborasi Lintas Sektoral
Pelaksanaan projek kepemimpinan ini dirancang secara komprehensif, melibatkan sinergi aktif antara tim mahasiswa PPG UNPAS dengan elemen masyarakat akar rumput. Pemilihan Kampung Babakan Ciherang sebagai lokasi sasaran didasarkan pada urgensi kebutuhan warga terhadap ketersediaan sarana penampungan dan pendistribusian air yang higienis, tertata, serta berkesinambungan. Dalam praktiknya, pembangunan infrastruktur fisik ini tidak sekadar berfokus pada aspek teknis pengerjaan bangunan, melainkan berlandaskan pada prinsip keadilan sosial, di mana setiap kepala keluarga diharapkan mampu mendapatkan porsi dan akses pemanfaatan air secara merata tanpa adanya disparitas.
Ketua Projek Kepemimpinan PPG UNPAS Wacika Lembur, Muhammad Hilmi, dalam keterangannya menjelaskan bahwa esensi utama dari gerakan ini melampaui batas-batas tugas akademik konvensional. Menurutnya, program ini dirancang sebagai manifestasi nyata kepedulian kaum terdidik terhadap realitas sosial di tengah masyarakat perdesaan.
“Wacika Lembur kami hadirkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Pembuatan BAK air ini bukan hanya tentang membangun fasilitas, tetapi bagaimana fasilitas tersebut dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan dan dapat dirasakan oleh masyarakat secara adil,” ujar Muhammad Hilmi, Rabu (16/9).
Pernyataan senada juga diperkuat oleh Risqi selaku Humas Projek Kepemimpinan PPG UNPAS. Ia menekankan bahwa aspek pemeliharaan jangka panjang merupakan penentu utama keberhasilan program ini. Oleh karena itu, tim mahasiswa tidak hanya membangun, tetapi juga merintis sistem komunikasi terpadu bersama warga untuk memastikan fasilitas tersebut terjaga dengan baik.
“Kami berharap BAK air Wacika Lembur Kahuripan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi warga Kampung Babakan Ciherang. Yang tidak kalah penting, setelah pembangunan selesai, kami ingin memastikan keberlanjutan manfaatnya melalui komunikasi dan monitoring bersama masyarakat,” ungkap Risqi, Rabu (16/9).

Apresiasi Tokoh Masyarakat dan Komitmen Keberlanjutan Jangka Panjang
Kehadiran infrastruktur air bersih ini disambut antusias oleh warga setempat. Pak Mahpud, selaku tokoh masyarakat Kampung Babakan Ciherang, menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi yang ditunjukkan oleh jajaran civitas akademika PPG UNPAS. Ia menilai bahwa bantuan ini menjadi angin segar bagi warga yang selama ini mendambakan kemudahan akses terhadap air bersih guna menunjang aktivitas kehidupan sehari-hari.
“Kami sangat mengapresiasi adanya pembuatan BAK air Wacika Lembur ini. Mudah-mudahan ke depannya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh warga dan memberikan akses yang penuh serta berkeadilan bagi masyarakat,” ujar Pak Mahpud, Rabu (16/9)
Lebih lanjut, Pak Mahpud mengajak seluruh warga Kampung Babakan Ciherang untuk memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap fasilitas yang telah dibangun. Kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar sumber air dan merawat fisik bangunan bak penampung dinilai krusial agar manfaatnya dapat dinikmati lintas generasi.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan akademis, Projek Wacika Lembur menerapkan mekanisme pasca-pembangunan yang terstruktur. Tim Projek Kepemimpinan PPG UNPAS berkomitmen untuk secara berkala menerjunkan tim guna melakukan monitoring dan evaluasi. Langkah pengawasan ini difungsikan untuk memantau kondisi fisik bangunan, mengukur tingkat efektivitas distribusi air, serta menyerap aspirasi lanjutan apabila terdapat kebutuhan perbaikan maupun pengembangan sarana di masa mendatang.

Filosofi Luhur: Ngajaga Cai, Ngajaga Hirup, Ngajaga Lembur
Gerakan Wacika Lembur mengusung filosofi kultural yang sarat makna, yakni “Ngajaga Cai, Ngajaga Hirup, Ngajaga Lembur” (Menjaga Air, Menjaga Kehidupan, Menjaga Kampung Halaman). Filosofi ini merefleksikan kesadaran ekologis bahwa air merupakan urat nadi peradaban manusia dan kelangsungan ekosistem pedesaan. Kerusakan atau krisis air berpotensi melumpuhkan sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lembur.
Melalui kolaborasi harmonis antara dunia kampus, tokoh masyarakat, dan warga sipil, program Wacika Lembur diharapkan mampu menjadi role model atau percontohan bagi pembangunan berbasis komunitas (community-based development) di wilayah lain. Inisiatif ini membuktikan bahwa sinergi kolaboratif mampu menjembatani kesenjangan infrastruktur dasar, sekaligus menumbuhkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian lingkungan di era modern.
(FY)
#WacikaLembur #PPGUNPAS #AirBersihCianjur #KampungBabakanCiherang #KecamatanCampaka #ProjekKepemimpinan #PembangunanBerkeadilan #BeritaCianjur #SorotRakyat #JurnalismeWarga #InfrastrukturDesa #LingkunganHidup
Editor & Penerbit: Den.Mj




