Membangun Kemandirian Seniman Muda: Sanggar Getar Pakuan Gandeng ISBI Bandung Gelar Workshop Tata Rias dan Sanggul

0
44
Workshop Tata Rias dan Sanggul Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor bersama ISBI Bandung.
Para peserta yang terdiri dari siswa, wali murid, pengurus Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor, serta narasumber akademisi dari ISBI Bandung berfoto bersama usai menggelar Workshop Tata Rias dan Sanggul di Studio Latihan Kemuning Gading, Sabtu (24/10/2026).

SOROTRAKYAT.COM | KOTA BOGOR — Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor menggelar Workshop Tata Rias dan Sanggul secara intensif yang dirangkaikan dengan persiapan Evaluasi Triwulan di Studio Latihan, Gedung Kemuning Gading Lantai 3, Balaikota Bogor, pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan yang berlangsung penuh antusiasme dari pukul 11.00 hingga 14.45 WIB ini diikuti oleh 120 peserta yang terdiri dari para siswa penari beserta para orang tua atau wali murid.

Dalam workshop berdurasi lebih dari tiga jam tersebut, Sanggar Seni Getar Pakuan menghadirkan narasumber akademisi dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Devi Supriatna, S.Sen., M.Sen.—yang akrab disapa Kang Kodev—serta mendapat dukungan penuh dari jenama kecantikan OMG Kosmetik.

Ketua Sanggar Seni Getar Pakuan, Zenzen Djuansyah atau yang akrab disapa Kang Zen, menegaskan bahwa penyelenggaraan workshop ini tidak semata-mata bertujuan memperelok penampilan fisik penari di atas panggung. Lebih dari itu, agenda ini dirancang sebagai langkah strategis dalam membangun kemandirian para penari muda serta membuka peluang pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis komunitas seni.

“Tujuannya untuk mengajarkan kepada orang tua supaya bisa merias anaknya sendiri. Jadi tidak usah lagi bergantung pada salon. Bahkan ke depannya, mudah-mudahan keahlian ini bisa bernilai komersil. Orang tua murid tidak hanya me-makeup-in anaknya sendiri, tetapi juga bisa merias teman-temannya atau penari lain,” ujar Kang Zen saat diwawancarai wartawan sorotrakyat.com di lokasi kegiatan, Sabtu (24/10/2026).

Kang Zen menjelaskan alasan mendasar sanggar dalam mengundang pakar akademisi bidang pertunjukan alih-alih sekadar praktisi kecantikan komersial. Langkah ini diambil untuk memastikan pemahaman teoritis dan teknis tata rias tari dapat tersampaikan secara tepat dan berdasar.

“Kami tidak hanya mendatangkan pihak kosmetik, tetapi khusus menghadirkan akademisi seni. Supaya pemahaman dan penyampaian materinya benar secara kaidah pertunjukan, karena ada perbedaan mendasar dan teknis antara tata rias tari panggung dengan tata make-up untuk pengantin atau acara harian,” tegasnya.

Baca Juga:  Eko Iriandoko, Nahkodai KMP Harapan Ekonomi Gunung Batu: Siap Wujudkan Mimpi Besar Presiden!

Lebih jauh, Kang Zen menekankan prinsip dasar yang senantiasa dipegang teguh oleh lembaga yang dipimpinnya terkait keberlanjutan ekosistem kesenian daerah.

“Kesenian itu mustahil hidup kalau tidak bisa menghidupi. Jadi seni itu baru benar-benar hidup kalau bisa memberikan penghidupan dan kemandirian bagi pelakunya,” tutur Kang Zen.

Ia menambahkan, penguasaan materi rias dan sanggul oleh para penari maupun orang tua murid memberikan dampak efisiensi anggaran secara nyata, sehingga pembiayaan pertunjukan dapat dialokasikan ke kebutuhan seni lainnya.

“Kalau penari sudah menguasai tata rias dan sanggul, itu bisa mengurangi beban budget. Makanya seorang penari idealnya harus menguasai kedua teknik ini. Tidak perlu lagi sewa jasa perias atau pergi ke salon. Efisiensi anggarannya bisa dialihkan untuk kebutuhan kostum atau keperluan operasional sanggar lainnya,” tambah Kang Zen.

Rias Pertunjukan dan Kolaborasi Akademik-Komunitas

Workshop Tata Rias dan Sanggul Sanggar Seni Getar Pakuan Bogor bersama Dosen ISBI Bandung Devi Supriatna evaluasi triwulan 2026
Dosen Tari ISBI Bandung, Devi Supriatna http://S.Sen http://M.Sen (Kang Kodev) saat memberikan praktik tata rias dan sanggul kepada siswa Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor dalam Workshop dan Persiapan Evaluasi Triwulan di Gedung Kemuning Gading Balaikota Bogor, Sabtu (25/10/2026). Workshop diikuti 120 peserta untuk mencetak penari mandiri yang mampu menghemat budget rias. Foto: SOROT RAKYAT.

Sementara itu, Dosen Tari ISBI Bandung, Kang Kodev, memaparkan pentingnya pemahaman utuh mengenai tata rias pertunjukan (stage make-up) yang memilik konsep sangat berbeda dibandingkan tata rias harian (daily make-up). Menurutnya, riasan pertunjukan merupakan elemen penting yang menyatu dalam estetika tata panggung.

“Ini sangat penting, karena seni tari adalah satu kesatuan elemen yang utuh. Di dalam tari tidak hanya ada koreografi, tetapi ada kostum, rias, tata rambut, dan musik. Seni tari tidak bisa berdiri mandiri hanya sebatas gerak koreografi saja,” papar Kang Kodev.

Ia menjelaskan bahwa dalam pengaplikasian rias panggung, faktor subjektivitas maupun tren riasan harian harus dikesampingkan demi memenuhi standar visual penonton dari jarak jauh.

“Untuk rias pertunjukan, kita tidak lagi membawa urusan pribadi ataupun selera individual. Kalau rias sehari-hari pasti ada hubungannya dengan selera, misalnya ada yang tidak suka tebal. Tetapi untuk panggung pertunjukan, perasaan subjektif itu harus dikesampingkan karena kita harus memperhitungkan kebutuhan audiens, tata pencahayaan (lighting), serta jarak pandang penonton,” jelas akademisi ISBI Bandung tersebut.

Baca Juga:  Awal September Wali Kota Bogor Rotasi dan Mutasi Pejabat Fungsional

Mengomentari kebiasaan penari pemula, Kang Kodev menyebutkan bahwa kekurangtepatan yang sering terjadi adalah penerapan tren kecantikan populer pada panggung pertunjukan.

“Bukan sebuah kesalahan fatal, tetapi kurang tepat ketika mereka mengaplikasikan tata rias berdasarkan tren fashion terkini seperti make-up natural yang tipis. Di atas panggung, kita harus memperhitungkan setting lighting dan keseimbangan dengan warna kostum. Jika menerapkan rias natural biasa, riasan wajah akan terlihat pucat saat terkena lampu panggung,” ungkapnya.

Di sisi lain, Kang Kodev mengapresiasi sinergi antara perguruan tinggi seni dan sanggar-sanggar budaya lokal sebagai bentuk simbiosis mutualisme yang positif bagi pengembangan keilmuan dan pelestarian budaya.

“Mau apa pun sanggarnya dan di mana pun lokasinya, mereka adalah laboratorium nyata bagi ISBI. Apa yang kami kaji dan teliti di ruang kelas akademis dapat diuji serta diaplikasikan langsung di tengah masyarakat. Ini adalah hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguatkan,” pungkas Kang Kodev.

Optimalisasi ‘Skin Preparation’ dan Respon Peserta

Dari perspektif industri kosmetik, perwakilan OMG Kosmetik, Teh Bunga Nanda Diruina, membagikan panduan teknis mengenai tahapan aplikasi produk agar riasan pertunjukan memiliki ketahanan maksimal (long-lasting) saat penari tampil di panggung.

“Seluruh rangkaian produk diperkenalkan secara runut, mulai dari micellar water, serum, moisturizer, sunscreen, cushion, bedak padat, hingga setting spray tahap demi tahap,” terang Teh Bunga.

Ia menggarisbawahi pentingnya persiapan kulit (skin preparation) sebelum mengaplikasikan produk dekoratif panggung.

“Kunci agar riasan lebih tahan lama untuk pentas adalah memaksimalkan skin prep. Penggunaan serum, moisturizer, dan sunscreen itu wajib dan tidak boleh dilewati. Untuk pengaplikasian complexion dan bedak harus dilakukan secara perlahan serta merata. Sebagai sentuhan akhir, kunci seluruh riasan menggunakan setting spray,” pandu Teh Bunga.

Manfaat pelatihan langsung dirasakan oleh para peserta, termasuk para penari muda Sanggar Seni Getar Pakuan. Kejora, salah satu siswi penari, menyatakan bahwa materi workshop ini menjadi bekal berharga menjelang agenda Evaluasi Triwulan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (25/10/2026).

Baca Juga:  Bagian Hukum dan HAM Gelar FGD Efektivitas Penerapan Restorative Justice

“Kesan Kejora seru sekali dan sangat menyenangkan! Awalnya sempat mengira akan sulit, terutama saat belajar teknik memegang sisir sasak dan memasang jepit lidi yang membutuhkan trik khusus. Namun karena diajarkan secara bertahap oleh para mentor, Kejora jadi paham cara menyanggul yang rapi serta merias wajah agar tampak memesona dan proporsional di panggung,” ungkap Kejora dengan antusias.

Ia menambahkan bahwa workshop ini memberikan rasa percaya diri tambahan menjelang ujian evaluasi.

“Sangat membantu sekali! Apalagi besok sudah jadwal Evaluasi Triwulan, jadi momen workshop hari ini sangat tepat. Kejora merasa jauh lebih siap dan tidak grogi lagi. Pengetahuan rias dan sanggul yang didapat hari ini bisa langsung dipraktikkan besok di hadapan tim penguji,” tuturnya.

Senada dengan visi sanggar, Kejora berharap keahlian baru ini mampu mendorong kemandirian para penari sekaligus mereduksi beban finansial orang tua.

“Harapan Kejora, semoga bisa semakin mandiri dalam merias wajah dan menata sanggul sendiri tanpa harus selalu bergantung pada orang tua. Jika sudah bisa mandiri, tentu bisa menghemat pengeluaran orang tua juga. Jadi seorang penari itu memang idealnya harus menguasai keduanya—tidak hanya mahir menari, tetapi juga terampil merias dan menyanggul sendiri agar tampil maksimal, rapi, dan membanggakan Sanggar Seni Getar Pakuan,” tutup Kejora.

Rangkaian kegiatan workshop diakhiri dengan sesi praktik simulasi mandiri, di mana para orang tua murid secara langsung mempraktikkan materi tata rias dan penataan sanggul pada anak-anak mereka sebagai bentuk persiapan akhir menuju evaluasi.

(KDR)

#SanggarGetarPakuan #ISBIBandung #KotaBogor #SeniTariSunda #TataRiasPertunjukan #KemandirianSeniman #KebudayaanBogor #SorotRakyat #EkonomiKreatif #WorkshopMakeup

Editor & Penerbit: Den.Mj

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini