ADVERTISEMENT
160×600
Skyscraper
Kuping Kiri
ADVERTISEMENT
160×600
Skyscraper
Kuping Kanan
Sorot Rakyat • Media Terdepan Dalam BeritaIkuti: FB • IG • YT • TikTok
ADVERTISEMENT
728×90 — Header
Ganti dengan Ads 728x90 Jika ada
BREAKING92 Persen Warga Bogor Minim Olahraga: Tantangan Kesehatan di HUT ke-81 PMISorot Rakyat
Berita

Bongkar Kasus Banjir Abadi di Kota Bogor! Hery Antasari Beberkan Penyebab dan Solusinya

Sorot Rakyat • 06 Des 2024 • 01:45 WIB
Sorotrakyat.com | Kota Bogor – Penjabat (Pj) Wali Kota Bogor, Hery Antasari meninjau tiga titik lokasi rawan banjir di dua kecamatan. Dua lokasi tersebut berada di Kecamatan Tanah Sareal, yakni di RW 04 Kedung Waringin dan RW 08 Kelurahan Mekarwangi, dan satu lokasi berada di Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara.   “Saya mengunjungi titik-titik yang menjadi […]

Sorotrakyat.com | Kota Bogor – Penjabat (Pj) Wali Kota Bogor, Hery Antasari meninjau tiga titik lokasi rawan banjir di dua kecamatan. Dua lokasi tersebut berada di Kecamatan Tanah Sareal, yakni di RW 04 Kedung Waringin dan RW 08 Kelurahan Mekarwangi, dan satu lokasi berada di Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara.  

“Saya mengunjungi titik-titik yang menjadi langganan banjir, selain juga banyak titik lain yang perlu kita atensi. Tapi tadi yang saya monitor dan tinjau, memang yang berulang,” kata Hery usai meninjau lokasi rawan banjir, Kamis (5/12/2023).  

ADVERTISEMENT — 336×280
AD CONTOH NATIVE feed • tipis
Native 1:4 • scroll santai Ayah

Banjir yang terjadi secara berulang di Kecamatan Tanah Sareal tersebut bersebelahan dengan dataran bertanah basah yang selalu digenangi air atau yang disebut dengan rawa dengan kontur menyerupai cekungan. 

Rawa tersebut menjadi jalur lintasan air dari air limpasan ataupun air hujan. Sehingga, air yang mengalir ke rawa tersebut melimpas ke rumah warga yang berada tak jauh dari rawa.  

“Seharusnya lokasi-lokasi itu sudah jadi kolam retensi atau embung, sekaligus untuk menampung banjir. Nah, ternyata di lokasi itu juga ada penduduknya. Penduduk itulah yang terdampak oleh banjir,” ucap Hery.

Kondisi itu ke depan, sambung Hery, akan menjadi perhatian, baik di tingkat kota maupun untuk unsur kewilayahan, dinas teknis, serta perangkat daerah terkait, untuk menyempurnakan kembali kajian yang sudah ada agar diusulkan ke dalam Musrenbang.  

120×80
NATIVE FRAME
Rekomendasi redaksi
AD CONTOH NATIVE -single2 • tipis
Pj Wali Kota Bogor Hery Antasari ungkap penyebab utama banjir berulang. Dibutuhkan penanganan jangka menengah dan panjang serta normalisasi saluran hingga membebaskan lahan untuk solusi atasi banjir di kota bogor.

Penyempurnaan kajian tersebut dilakukan sebagai upaya untuk penanganan jangka menengah maupun jangka panjang, seperti membuat kolam retensi atau embung. Sehingga, ke depan, penanganan banjir ini harus menjadi atensi bersama dari sisi urgensitas.  

Sementara itu, untuk tanggap darurat, Hery menekankan agar wilayah terus memonitor kondisi warga dan membantu perlengkapan anak-anak sekolah yang rusak karena banjir sehingga, pendidikan anak-anak tidak terganggu dan tetap berjalan.  

Baca Juga:  Berburu Takjil di Bundaran Yasmin, Ada Bubur Manado hingga Pempek Palembang

Berkaitan dengan terjadinya banjir di suatu daerah, Hery yang memiliki latar belakang keilmuan bidang tata kota menjelaskan, bahwa secara prinsip alam sejak ribuan tahun lalu tidak berubah. Lingkungan juga tidak berubah, sehingga air mengalir dari hulu atau tempat yang lebih tinggi menuju dataran rendah atau cekungan sesuai kontur yang ada.  

Walaupun muka bumi mengalami perubahan, hal tersebut disebabkan oleh bencana, seperti gunung meletus dan sebagainya.  

“Sedangkan air itu melintas sesuai dengan jalur yang dilewati sejak ribuan tahun lalu. Tapi akhirnya ada lingkungan binaan, yaitu manusia, yang tinggal di situ, membangun rumah, dan sebagainya, sehingga aliran air alami ini, badan-badan air alami ini, mengecil, menyempit, terjadi sedimentasi,” jelas Hery. 

Ditambah lagi, perubahan tata guna lahan di hulunya menyebabkan air banyak langsung masuk ke saluran tanpa sempat meresap di hulu, sehingga meningkatkan debit air. 

Jadi, menurut Hery, gabungan antara cuaca ekstrem, debit air yang meningkat, badan air yang kapasitasnya terbatas, dan budaya masyarakat yang mungkin ikut berkontribusi—seperti perilaku buang sampah sembarangan—menyebabkan badan air tidak bisa menampung debit air, terutama ketika masuk cuaca ekstrem.  

Solusi jangka menengah dan panjang untuk mengatasi banjir, disampaikan Hery, adalah normalisasi saluran, membuat embung, atau dengan upaya menata kembali sempadan sungai.  

“Kalau untuk penataan sempadan sungai, membuat embung, atau kolam retensi, ya harus ada lahan yang dibebaskan,” ujarnya.  

Sekedar informasi, setelah meninjau tiga titik lokasi tersebut, Hery langsung meninjau debit air di Pos Pantau Bendung Katulampa bersama rombongan. (DR)

Editor & Penerbit: Den.Mj