Merawat Warisan Leluhur, 120 Penari Cilik Padati Evaluasi Triwulan Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor

0
68
Suasana evaluasi triwulan Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor tanggal 25 Oktober 2026 yang menampilkan 120 penari cilik dengan busana tradisional Sunda dan latar grafis pewayangan.
Evaluasi Triwulan Sanggar Seni Getar Pakuan Kota Bogor tanggal 25 Oktober 2026 yang menampilkan 120 penari muda bersama pengurus serta cuplikan visual Tari Wayang Priangan dan Tari Klasik Sunda.

SOROTRAKYAT.COM | KOTA BOGOR — Semangat melestarikan kebudayaan Sunda terus menyala di Kota Bogor. Sanggar Seni Getar Pakuan sukses menggelar ajang evaluasi triwulan yang dipadati oleh sebanyak 120 penari lintas usia, mulai dari anak-anak usia 6 hingga 14 tahun, bertempat di studio sanggar pada Minggu, 25 Oktober 2026. Gelaran akbar ini menampilkan ragam materi pembelajaran seni pertunjukan tradisional, mulai dari Tari Jaipongan, Tari Sunda Klasik, Tari Nusantara, Tari Wayang Priangan, hingga pelatihan Bina Vokal.

Ketua Sanggar Seni Getar Pakuan, Kang Zenzen Djuansyah atau yang akrab disapa Kang Zen, menjelaskan bahwa kegiatan evaluasi ini merupakan agenda rutin yang dirancang sebagai wadah pengembangan kapasitas lanjutan bagi para siswa setelah menempuh proses latihan intensif selama satu hingga tiga bulan.

“Evaluasi ini kami desain bertahap. Pada skala internal, pertunjukan baru disaksikan orang tua murid dengan kostum seragam dan riasan hasil workshop. Tujuannya untuk merangsang rasa percaya diri anak-anak, terutama pemula, agar tidak grogi saat naik ke panggung utama di tempat umum,” ujar Kang Zen kepada Sorot Rakyat.

Antusiasme Wali Murid dan Transformasi Mental Generasi Muda

Tingginya kecintaan terhadap seni tradisi tergambar jelas dari antusiasme para orang tua murid yang mendampingi jalannya acara. Salah satu wali murid, Ibu Suri Lestari—ibu dari Raditya Adimas Rahid (14) dan Raskia Putri Saptari (6) yang telah bergabung selama dua tahun—mengaku bangga melihat perkembangan positif anak-anaknya.

“Alhamdulillah anaknya rajin, senang, terus bisa menari. Ada kegiatan positif. Sudah banyak ikut perlombaan. Melihat 120 penari hari ini rasanya senang, bangga, bahagia,” ungkap Suri Lestari. Ia mengajak masyarakat luas untuk turut serta mendaftarkan buah hati mereka mendalami seni tari kreasi Jaipong di Sanggar Seni Getar Pakuan.

Baca Juga:  Camat Pancoran Mas dan para Lurah Ngopi Bareng Bersama SWI Depok Sikapi Permasalahan Lingkungan

Perjalanan mental para penari muda juga diwarnai cerita inspiratif, seperti yang dialami oleh Insira Geisanian Andika atau akrab disapa Sisi. Penari cilik yang telah berlatih selama dua tahun ini mengaku sempat merasa gugup ketika harus tampil di hadapan ratusan penonton.

“Nervous pasti, takut lupa gerakan. Bagian tersulit itu menghafalkan gerak. Tapi aku sering tampil jadi biasa saja, natural saja,” tutur Sisi. Menariknya, kecintaannya terhadap seni tari lahir dari proses adaptasi. “Dulu sebenarnya aku nggak mau, mama yang maksa. Tapi ternyata asyik, tak kenal maka tak sayang akhirnya jatuh cinta,” kenangnya. Sebagai warga Bogor, ia menegaskan bahwa kecintaan terhadap budaya lokal adalah sebuah kewajiban moral. “Lahir di tanah Sunda, makanya harus mencintai budaya Sunda. Satu kata untuk Getar Pakuan hari ini: Wonderful! Luar biasa,” tegasnya.

Komitmen Inklusivitas Sosial: Akses Seni Tanpa Batas Biaya

Di tengah tantangan ekonomi global pasca-pandemi, Sanggar Seni Getar Pakuan tetap memegang teguh komitmen sosialnya bagi masyarakat luas. Sebagai bentuk bakti nyata kepada dunia pendidikan dan kebudayaan daerah, sanggar ini membuka pintu selebar-lebarnya bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera melalui program belajar gratis dengan melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Kebijakan inklusif serupa juga diberikan secara cuma-cuma tanpa pungutan biaya kepada anak-anak yatim piatu yang memiliki minat dan ketekunan tinggi untuk menekuni seni tari tradisi Sunda. Langkah ini diambil agar batasan ekonomi tidak menjadi halangan bagi generasi muda untuk merawat warisan budaya bangsa.

Konsistensi Menghidupkan Kembali Tari Wayang Priangan yang Langka

Salah satu daya tarik utama dalam evaluasi triwulan kali ini adalah penayangan dan pengenalan kembali materi Tari Wayang Priangan, yang turut diabadikan sebagai ikon visual utama pada desain publikasi acara. Kang Zen menyoroti bahwa tarian klasik Sunda tersebut kini mulai terpinggirkan dan jarang diminati oleh generasi muda yang lebih gandrung pada tren budaya populer kontemporer.

Baca Juga:  GAS SD Bina Insani Kota Bogor, Ajang Salurkan Potensi Siswa

“Prinsip kami, yang terpenting anak-anak suka dulu pada seni tradisi. Kalau sudah suka, pasti akan mencintai. Jika sudah mencintai, mereka akan melestarikan dan mengembangkannya,” tegas Kang Zen. Ia memastikan bahwa meskipun kelas tari klasik ini hanya diikuti oleh segelintir siswa, pihak sanggar akan tetap istiqomah melestarikannya demi mencegah kepunahan aset kultural leluhur.

Proyeksi Masa Depan dan Harapan Sinergi Bersama Pemerintah

Memasuki fase pemulihan total setelah hantaman pandemi Covid-19, Getar Pakuan mematok target penguatan fondasi internal dalam tiga bulan ke depan guna mengembalikan kejayaan organisasi seperti era keemasan sebelum tahun 2020.

Mengakhiri rangkaian acara, Kang Zen menyampaikan pesan filosofis Sunda: “Dinu kiwari ngancik nu bihari, seja ayeuna sampeureun jaga”, yang mengandung makna bahwa apa yang dinikmati hari ini merupakan buah perjuangan masa lalu, dan apa yang ditanam hari ini dipersiapkan untuk masa depan generasi penerus.

Ia pun menitipkan harapan besar kepada Pemerintah Kota Bogor serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan agar memberikan uluran tangan dan perhatian yang lebih konkret terhadap eksistensi sanggar-sanggar seni tradisi lokal. Meski dalam beberapa tahun terakhir dukungan formal dirasa minim, para penggiat seni akar rumput terbukti tetap kokoh berdiri secara mandiri demi menjaga marwah kebudayaan Sunda di Kota Hujan.

(KDR)

#GetarPakuan #KotaBogor #SanggarTariBogor #TariJaipong #TariSundaKlasik #DisparbudKotaBogor #BudayaSunda #WartaBogor #SeniTradisi Nusantara

Editor & Penerbit: Den.Mj

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini