SOROTRAKYAT.COM | KOTA BOGOR – Di tengah kepanikan pasar global akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan lugas yang memantik diskusi hangat di kalangan akademisi dan praktisi ekonomi. Dengan gaya bicaranya yang otentik dan membumi, Presiden menegaskan, “Rakyat desa ga pake Dolar.” Kalimat yang terkesan sederhana ini dinilai bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah observasi empiris yang mendalam mengenai ketahanan struktural ekonomi akar rumput Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Ekonomi dan Ahli Manajemen, Prof. Dr. Kun Nurachadijat, S.E., M.B.A., mengungkapkan bahwa pandangan Kepala Negara tersebut membuka mata publik terhadap realitas fundamental ekonomi nasional. Menurutnya, wilayah pedesaan di Indonesia memiliki “imunitas alami” terhadap guncangan eksternal karena digerakkan oleh ekosistem produksi dan konsumsi lokal yang mandiri.
“Ketergantungan terhadap Dolar AS sebenarnya hanya berkorelasi dengan tingkat konsumsi barang impor yang dampaknya langsung memukul sektor industri perkotaan dan gaya hidup metropolitan. Sebaliknya, denyut nadi perekonomian desa ditopang oleh rantai pasok lokal. Transaksi di pasar tradisional murni menggunakan Rupiah,” ujar Prof. Kun saat memberikan analisisnya di Kota Bogor.
Strategi Ekonomi Sirkular Melalui Program Unggulan
Lebih lanjut, Prof. Kun menjelaskan bahwa pemerintah tidak membiarkan resiliensi alami pedesaan ini berjalan sendiri. Presiden Prabowo Subianto mengorkestrasikannya melalui kebijakan terintegrasi, salah satunya lewat Program Makan Bergizi Gratis.
Program raksasa ini tidak hanya menjadi instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), melainkan juga menjadi stimulus ekonomi sirkular yang masif bagi warga desa. Seluruh bahan baku seperti beras, telur, daging, sayuran, hingga ikan diserap langsung dari petani, peternak, dan nelayan lokal menggunakan mata uang Rupiah.
Untuk membentengi perputaran nilai tambah ekonomi tersebut agar tidak lari ke luar daerah, pemerintah mendorong revitalisasi kelembagaan melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih dan inisiatif Kampung Nelayan Merah Putih.
“Koperasi ini dirancang menjadi agregator yang mengonsolidasikan hasil panen dan tangkapan masyarakat, sekaligus menjadi tulang punggung rantai pasok lokal. Di kawasan pesisir, Kampung Nelayan Merah Putih memastikan infrastruktur dan akses pasar nelayan terjamin. Kolaborasi program ini menciptakan benteng pertahanan ekonomi yang kuat,” tambah Prof. Kun.
Desa Sebagai Jangkar Ekonomi Nasional
Di akhir analisisnya, Prof. Kun menekankan bahwa pernyataan Presiden Prabowo adalah pengingat strategis bahwa fondasi utama ekonomi Indonesia berada di sektor domestik, khususnya desa dan wilayah pesisir.
Meski pemerintah melalui Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan tetap bekerja keras menjaga stabilitas makroekonomi, masyarakat diajak untuk tidak panik dan lebih fokus mengawal program swasembada pangan.
“Jika desa dan kampung nelayan kita kuat, Indonesia akan senantiasa berdiri tegak menghadapi badai ekonomi global mana pun. Energi kita jauh lebih baik difokuskan untuk memajukan koperasi lokal dan kemandirian pangan nasional daripada terus-menerus cemas melihat pergerakan Dolar,” pungkasnya. (FY)
#PrabowoSubianto #EkonomiIndonesia #KoperasiMerahPutih #MakanBergiziGratis #KemandirianPangan #Sorotrakyat #ProfKunNurachadijat #RupiahKuat #EkonomiDesa #BeritaTerkini
Editor & Penerbit: Den.Mj

Tinggalkan Balasan