SOROTRAKYAT.COM | KOTA BOGOR — Rencana ambisius Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk melakukan revitalisasi besar-besaran terhadap Gedung Kemuning Gading yang bersejarah pada tahun 2026 tiba-tiba menghadapi tembok besar. Sebuah tinjauan lapangan mendadak yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengungkap fakta mengerikan: meskipun memiliki nilai sejarah yang tak ternilai, struktur fisik gedung tersebut kini dalam kondisi “merah” dan berisiko runtuh, sehingga aspek keselamatan pengguna dan pekerja menjadi taruhan utama.
Peninjauan kritis ini tidak dilakukan Dedie seorang diri. Beliau didampingi oleh tim teknis dan kebijakan yang lengkap, termasuk Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Firdaus, Kepala Dinas PUPR Juniarti Estiningsih, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Chusnul Rozaqi, serta Sekretaris Dinas PMPTSP Cecep Zakaria. Kehadiran seluruh kepala dinas terkait ini menegaskan betapa seriusnya temuan dari hasil kajian struktur awal.
Dari hasil peninjauan, Dedie Rachim secara terbuka membeberkan fakta memprihatinkan. Kurangnya pemeliharaan rutin yang krusial selama puluhan tahun telah menyebabkan kebocoran atap yang meluas dan persisten. Efek domino dari kebocoran ini telah melumpuhkan bagian-bagian lain bangunan, terutama area di bawahnya yang, secara tragis, saat ini digunakan sebagai Kantor Pelayanan Dinas PMPTSP Kota Bogor sebuah area pelayanan publik yang sibuk.
“Tujuan peninjauan ini adalah untuk memastikan kondisi konstruksi berdasarkan hasil penilaian dan pendalaman kajian awal, khususnya dalam mendukung rencana revitalisasi yang menyangkut aspek keselamatan. Pemkot Bogor tidak ingin gegabah. Kami perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah bangunan ini masih ‘berdiri’ dan aman untuk direvitalisasi pada 2026,” ujar Dedie Rachim dengan nada serius di Balai Kota Bogor, Kamis (26/3/2026). Dedie menekankan bahwa keselamatan jiwa di atas segalanya.
Menyadari tingkat keparahan temuan tersebut, Dedie Rachim mengambil langkah berani. Pasca-peninjauan, beliau mengumumkan rencana untuk segera menemui Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) guna menyampaikan permohonan penilaian konstruksi independen dan menyeluruh oleh Komite Keselamatan Konstruksi. Langkah ini bukan lagi tentang estetika, melainkan tentang audit kelayakan bangunan secara total sebelum proses revitalisasi yang sebenarnya dapat dimulai.
Dedie menambahkan, skenario kedepan akan sangat bergantung pada hasil penilaian ini. Jika Komite menemukan sebagian struktur (misalnya, lantai tiga) tidak lagi layak digunakan, namun lantai satu dan dua masih memungkinkan, maka proses revitalisasi dapat dilanjutkan dengan penyesuaian besar pada Detail Engineering Design (DED), atau bahkan pengurangan scope revitalisasi.
Dedie Rachim dengan tegas menegaskan bahwa tidak akan ada tawar-menawar dalam hal keselamatan. “Jika hasil penilaian menyatakan tidak memungkinkan, maka anggaran akan dialihkan untuk kebutuhan lain atau revitalisasi akan ditunda total guna penguatan konstruksi yang lebih mendesak sebelum dilanjutkan dengan proyek revitalisasi kosmetik,” tegasnya.

Pernyataan ini menyoroti pergeseran fokus yang krusial. Meskipun dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) tahun 2026, kegiatan revitalisasi telah direncanakan dan dialokasikan, temuan awal dari tim konsultan yang mengidentifikasi adanya keretakan pada struktur bangunan memaksa adanya evaluasi ulang yang mendasar. “Jika ditemukan keretakan, tentu keselamatan menjadi prioritas. Karena itu, diperlukan penilaian lebih detail dari Komite Keselamatan Konstruksi,” tambah Dedie Rachim.
Kepala Disparbud Kota Bogor, Firdaus, memberikan detail yang lebih mengkhawatirkan. Ia menyampaikan bahwa hasil kajian menunjukkan beberapa kolom struktur utama berisiko tinggi apabila revitalisasi tetap dipaksakan sesuai rencana awal.
“Dalam kajian teknis, beberapa bagian struktur dinyatakan tidak andal dan berpotensi membahayakan. Saat ini kami masih menunggu hasil penilaian lanjutan sebelum keputusan diambil,” kata Firdaus.
Ia menyebutkan, tingkat kerusakan Gedung Kemuning Gading secara keseluruhan mencapai sekitar 70 persen, terutama pada lantai atas dan area auditorium yang dulunya megah. Bahkan, kerusakan di lantai dua dan tiga diperkirakan mencapai sekitar 90 persen, sebuah angka yang menunjukkan kehancuran sistematis. Meski demikian, sebagai cahaya harapan, secara struktur beton, bangunan tersebut dinilai masih memiliki ketahanan yang baik terhadap gempa, berkat standar tinggi yang diterapkan pada masa pembangunannya.
Sebagai informasi, Gedung Kemuning Gading merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang paling berharga di Kota Bogor. Dibangun pada tahun 1960 dan dirancang oleh arsitek legendaris Indonesia, Ir. F.X. Silaban, pembangunannya berlangsung hampir bersamaan dengan Masjid Istiqlal di Jakarta. Hingga saat ini, gedung bersejarah ini belum pernah sekalipun menjalani proses revitalisasi sejak pertama kali dibangun, menjadikannya ‘bom waktu’ struktural yang kini harus dihadapi Pemkot Bogor. (FY)
#GedungKemuningGading #RevitalisasiBogor #DedieRachim #CagarBudaya #KeselamatanKonstruksi
Editor & Penerbit: Den.Mj













