
SOROTRAKYAT.COM | TASIKMALAYA — Ajang kejuaraan pencak silat IPSI Cup XI Tasikmalaya diwarnai polemik dugaan kecurangan dalam sistem penilaian wasit juri pada partai final nomor 324 di Gelanggang A. Pertandingan yang melibatkan atlet usia dini, Raid Nadhif Lazuar, dari sudut biru menuai sorotan tajam setelah tim pelatih menemukan sejumlah kejanggalan perolehan poin yang dinilai merugikan atlet anak-anak.
Berdasarkan hasil wawancara usai pertandingan pada Senin (3/10), tim pelatih mengungkapkan adanya indikasi kesengajaan pengabaian poin di babak pertama, yang bahkan sempat memicu Ketua Pertandingan (KP) turun tangan menegur jajaran wasit juri.
Tim pelatih membeberkan bahwa dalam rekaman video full pertandingan dari berbagai sudut pandangbaik posisi penonton maupun KP Juri—terlihat pola penilaian yang janggal. Pada babak pertama, agresivitas sudut biru sangat dominan, bahkan sudut merah sempat jatuh akibat terkena pukulan.
Kendati demikian, poin yang masuk secara sah justru tidak dihitung ke papan skor. Salah satu bukti mencolok terlihat pada rekaman detik 00:06, di mana tendangan “T” dari Nadhif masuk dengan bersih ke arah body pelindung merah namun sama sekali tidak dinilai oleh juri. Akibatnya, pada babak pertama Nadhif hanya tercatat mengantongi 2 poin.
Kejanggalan ini turut disaksikan langsung oleh Ketua Pertandingan (KP). Saat jeda usai babak pertama, KP terlihat memanggil dan menegur seluruh wasit juri di meja juri. Pasca teguran keras tersebut, aliran poin mulai stabil dan perolehan nilai di babak kedua serta ketiga dinilai lebih adil, meskipun secara subjektif masih ada beberapa teknik valid yang terabaikan.
Menanggapi insiden ini, pihak manajer tim, Rizki Koswara, menyatakan bahwa secara umum penyelenggaraan Event Organizer (IO) sudah berjalan dengan baik, namun integritas oknum wasit juri di Gelanggang A patut dipertanyakan.
“Ada potensi kesengajaan dikarenakan dari beberapa sudut pandang jelas terlihat tendangan maupun pukulan masuk tetapi tidak terhitung di papan skor, sedangkan dari sudut merah konsisten terhitung setiap tendangan maupun pukulan yang masuk,” tegas Rizki Koswara.
Pihak tim melayangkan tuntutan agar panitia dan wasit juri terkait memberikan klarifikasi terbuka atas bukti-bukti video yang telah dikantongi. Mereka menuntut adanya permohonan maaf apabila terbukti ada unsur kesengajaan dalam pertandingan tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, tim memberikan tenggat waktu 2×24 jam sejak aduan ini dipublikasikan. Jika tidak ada itikad baik berupa video klarifikasi, pihak tim akan melayangkan somasi resmi melalui kuasa hukum kepada IPSI Kota Tasikmalaya sebagai teguran keras agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.
Sementara itu, jajaran pelatih menekankan bahwa standar profesionalisme perwasitan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Baik di kategori pra-dini, usia dini, hingga remaja, mekanisme penilaian juri wajib berjalan objektif sesuai dengan peraturan resmi yang diberlakukan oleh IPSI, demi menjaga mentalitas dan sportivitas atlet-atlet muda Indonesia.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak penyelenggara, panitia, maupun jajaran wasit juri belum memberikan keterangan resmi. Hak jawab dan klarifikasi tetap dibuka bagi semua pihak terkait sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pers.
(KDR)
Editor & Penerbit: Den.Mj


